Arsip Sejarah
Cerita di Setiap Era
Perjalanan Persib dari setiap era Liga Indonesia, sejak Perserikatan hingga Liga 1 / Super League.
Perserikatan (1931-1994)
Perserikatan adalah era amatir. Klub-klub dikelola dan didanai pemerintah daerah, lalu bertanding dalam kompetisi PSSI yang berpuncak pada perebutan Piala Presiden. PERSIB meraih lima gelar di era ini: 1937, 1961, 1986, 1989/90, dan 1993/94. Di mata publik, PERSIB adalah tim kebanggaan rakyat Jawa Barat. RSSSF mencatat 37 edisi kejuaraan Perserikatan antara 1931 dan 1994. Dengan lima gelar itu, Bandung berada di urutan ketiga kota juara bersama Makassar, di bawah Jakarta (8,5 gelar, satu di antaranya dibagi) dan Solo (7).
Awal kompetisi dan tiga kali kalah di final (1931-1936)
PSSI dibentuk pada 19 April 1930 di Yogyakarta. Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB), cikal bakal PERSIB, ikut membidaninya. Setahun kemudian kompetisi tahunan antarkota mulai digelar. Di kompetisi pertama 1931, BIVB kalah dari VIJ Jakarta di babak awal dan gagal lolos ke final. Di dalam kota, organisasi sepak bola bumiputra Bandung beberapa kali berganti bentuk. BIVB dan NVB bergabung pada 1932 dalam PSKB, lalu berpisah lagi di tengah konflik internal. Setelah itu PSIB dan NVB berfusi dan lahirlah PERSIB; Wikipedia bahasa Indonesia menulis tanggalnya 18 Maret 1934, sedangkan RSSSF mencatat Maret 1933.
Dalam periode ini PERSIB tiga kali tampil di final dan kalah: dari VIJ Jakarta pada 1933 dan 1934, serta dari Persis Solo pada 1936. Tempat turnamennya dicatat berbeda. BandungBergerak menulis Surabaya (1933), Bandung (1934), dan Solo (1936), sedangkan RSSSF mencatat Surabaya, Solo, dan Bandung.
Juara Perserikatan untuk pertama kali (1937)

(foto: arsipsepakbolaindonesia.com)
Setelah tiga kali kalah di final, PERSIB akhirnya juara pada Kompetisi Perserikatan 1937. Kejuaraan itu diikuti empat tim, yakni PERSIB, Persis Solo, PSIM Yogyakarta, dan PSIT Cirebon. Pertandingan digelar di dua kota, Bandung lalu Solo, dan VIJ Jakarta tidak ikut. Nilai yang berlaku saat itu dua untuk menang, satu untuk seri, dan nol untuk kalah.
Di Bandung, PERSIB membuka turnamen dengan menang 2–1 atas PSIT pada 30 April, lalu menaklukkan PSIM 1–0 pada 2 Mei. Di Solo, PERSIB kembali menang 2–1 atas PSIT pada 16 Mei, sehari setelah juara bertahan Persis ditahan imbang PSIT. Pada 17 Mei 1937, PERSIB hanya butuh hasil seri melawan Persis untuk merebut gelar, sementara Persis harus menang. Pertandingan itu ditonton sekitar 15.000 orang. Skor laga penentu dicatat berbeda: detikJabar dan Wikipedia bahasa Indonesia menulis 2–1 (di Stadion Sriwedari), sedangkan Tempo menulis 1–0. Yang pasti, PERSIB tidak terkalahkan sepanjang turnamen. Susunan pemain yang disebut detikSport antara lain Jasin, Arifin, Kucid, Edang, Ibrahim Iskandar, Saban, Sugondo, dan Adang.
Kemenangan ini mengobati kekalahan di final 1936 dari Persis. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat pendukung PERSIB menempuh perjalanan ke Solo untuk menyaksikan langsung, dan ketika pemain tiba kembali di Bandung mereka disambut teriakan “Persib Kampionen”. Sebagian artikel menulis gelar pertama PERSIB jatuh pada 1939, tetapi RSSSF, Tempo, dan detikJabar menunjuk 1937, dan RSSSF mencatat juara 1939 adalah Persis.
Vakum era pendudukan Jepang (1940-an)
Situasi politik mulai mengganggu kompetisi. Menurut RSSSF, turnamen antarkota PSSI tetap digelar tiap tahun hingga 1943 (1940 di Solo, 1941 di Bandung, 1942 di Surabaya, 1943 di Yogyakarta), semuanya dimenangi Persis Solo, lalu vakum pada 1944–1949. Setelah invasi Jepang pada 1942, NIVU dan PSSI dibubarkan dan kegiatan olahraga diatur di bawah pengawasan Jepang. PSSI dimasukkan ke dalam Tai Iku Kai, badan olahraga bentukan Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan 1945, empat tahun berikutnya dipenuhi kekerasan dan pertumpahan darah. PERSIB dibentuk ulang di Bandung pada 1948 di tengah Revolusi Nasional.
Kebangkitan 1950-an dan juara kedua (1961)

(foto: arsipsepakbolaindonesia.com)
PSSI dihidupkan kembali pada 1950 dan menggelar kejuaraan nasional pertama pascakemerdekaan pada 1951. Edisi 1950 yang bersamaan dengan Kongres PSSI di Semarang tidak diakui PSSI sebagai edisi kejuaraan. Soal hasilnya, sumber berbeda: Wikipedia bahasa Indonesia menyebut PERSIB runner-up setelah dikalahkan Persebaya di final, sedangkan tabel RSSSF mencatat PERSIB sebagai pemenang edisi yang tidak diakui itu. Skuat saat itu diperkuat pemain timnas proyeksi Asian Games 1951 seperti Anas dan Aang Witarsa. Setelah itu PERSIB finis ketiga pada 1952 (Surabaya) dan 1957 (Padang). Pada turnamen 1955–57, RSSSF mencatat PERSIB di peringkat ketiga babak final tujuh besar dengan tiga kemenangan, dua seri, dan satu kalah.
Pada edisi 1957–59 PERSIB finis kedua dengan empat kemenangan dari enam laga (22–8, 8 poin) dan dua kekalahan: 1–2 dari PSIS di Stadion Siliwangi dan 1–2 dari PSM Makassar, yang menyapu bersih enam laganya (12 poin). Kekalahan dari PSM itu terjadi di Lapangan Ikada, Jakarta. Di tahun-tahun itu Aang Witarsa dan Ade Dana ikut membela timnas di Olimpiade Melbourne 1956, yang menahan imbang Uni Soviet sebelum kalah 0–4 dalam laga ulang. Dari sisi infrastruktur, Stadion Siliwangi di Jalan Lombok, Bandung, dibangun atas inisiatif Letkol Mashudi (asisten logistik Divisi Siliwangi) dengan persetujuan Panglima Siliwangi A.E. Kawilarang. Dananya dihimpun dari potongan gaji prajurit. Peresmiannya disebut 20 Mei 1954 (menurut buku Mashudi) atau 30 Maret 1956 (menurut riset koran lama Novan Herviana). Stadion itu kemudian menjadi markas PERSIB dari era Perserikatan hingga akhir 2010.
Puasa gelar 24 tahun berakhir lewat Kompetisi Perserikatan 1959–61. Pada putaran final tujuh besar yang digelar antara lain di Makassar, Bandung, Jakarta, dan Semarang, PERSIB mengumpulkan 11 poin dari enam laga (lima menang, satu seri; selisih gol 24–9), unggul satu poin dari PSM di posisi kedua. Format liga mini ini tidak punya laga final tunggal. Satu-satunya pertemuan dengan PSM berakhir 1–1 dan dihentikan pada menit ke-85 setelah PSM meninggalkan lapangan. PERSIB mengalahkan Persema 7–1, PSMS 5–3, PSIS 6–2, Persebaya 2–1 (Wowo mencetak dua gol), dan menutup turnamen dengan 3–1 atas Persija. Sebagian sumber menyederhanakannya menjadi “mengalahkan PSM Ujungpandang”.
Materi pemain 1961 mencakup antara lain Simon Hehanusa, Hermanus, kiper Juju, Ishak Udin, Iljas Hadade, Rukma, Fatah Hidayat, Ade Dana, Hengki dan Pietje Timisela, Wowo Sunaryo, serta Omo Suratmo. Bintang yang kemudian dikenal adalah Emen “Guru” Suwarman. Sebagai juara, PERSIB ditunjuk PSSI mengikuti turnamen Aga Khan Gold Cup di Pakistan. Wikipedia Inggris menyebut keikutsertaan itu pada 1961, sedangkan BandungBergerak menulis 1962.
Pasang surut 1960-an dan 1970-an
Setelah 1961, PERSIB tidak lolos ke final pada kompetisi 1962–64 (juara Persija) maupun 1964/65 (juara PSM, PERSIB kalah di semifinal). Prestasi berikutnya hanya runner-up: final 1965/66 dimenangi PSM 2–0 dan final 1966/67 dimenangi PSMS 2–0. Final 1965/66 dimainkan di Stadion Teladan, Medan, pada 17 September 1966, setelah otoritas Jakarta tidak mengizinkan laga final digelar di sana akibat kericuhan penonton pada semifinal kedua PERSIB–Persebaya.
Sepanjang 1970-an tidak ada gelar liga. Pada putaran final 1973 di Jakarta, PERSIB finis ketujuh dari delapan peserta (satu menang, satu seri, lima kalah), meski Risnandar dari PERSIB dipilih sebagai pemain terbaik turnamen. Pada kejuaraan 1978, PERSIB menyapu empat laga babak 18 besar di Bandung dan Cirebon, tetapi tersingkir di fase delapan besar dan kalah 1–2 dari Persiraja pada perebutan tempat kelima. Kemerosotan memuncak pada musim 1978/79. Untuk pertama kalinya kejuaraan dibagi dua divisi. Divisi Utama diisi lima tim (Persija, PSMS, Persebaya, PSM, dan Persiraja), sementara PERSIB tampil di Divisi Satu sebagai juara Grup V.
Regenerasi generasi emas (1979-1985)

(foto: kompas.com)
Klub merespons dengan mendatangkan pelatih Polandia Marek Janota untuk tim muda dan Risnandar Soendoro untuk tim senior. Keduanya kemudian disatukan, dan lahirlah generasi Robby Darwis, Adeng Hudaya, Adjat Sudrajat, dan Suryamin. Pemain lain dari kelompok itu antara lain Sobur, Giantoro, Encas Tonif, Iwan Sunarya, Dede Iskandar, dan Boyke Adam. PERSIB kembali ke Divisi Utama bersama PSIS Semarang, Persema Malang, dan PSP Padang pada 1980.
Kebangkitan itu terbukti pada 1983. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, PERSIB lolos dari Wilayah Barat ke babak empat besar di Senayan dengan mengalahkan Persebaya 2–1, PSMS 2–1, dan PSM 3–0. Final 1983 mempertemukan PERSIB dengan PSMS Medan: 0–0 selama 120 menit, lalu PSMS menang 3–2 lewat adu penalti. Dua tahun kemudian, final Divisi Utama 1985 menjadi salah satu pertandingan paling dikenang dalam sejarah sepak bola Indonesia. PERSIB lolos setelah memuncaki Wilayah Barat (15 poin; lima menang, lima seri) dan menempati peringkat kedua babak enam besar di bawah PSMS.
Pada Sabtu, 23 Februari 1985, Senayan disesaki sekitar 150.000 penonton menurut Harian Kompas, jauh melampaui kapasitas 100.000 tempat duduk. Ribuan penonton yang tidak kebagian tempat mendobrak pintu stadion dan menyerbu lapangan sekitar pukul 17.30. Sebanyak 2.500 petugas keamanan berusaha menertibkan, pemain masuk lewat tribun VIP, dan pertandingan baru mulai setelah pukul 19.00. PERSIB dan PSMS bermain 2–2 selama 120 menit, lalu PSMS menang adu penalti. Skor penaltinya dicatat berbeda: 4–3 menurut Kompas, 2–1 menurut RSSSF, dan 3–2 menurut Wikipedia bahasa Indonesia. Dua final melawan PSMS (1983 dan 1985) ini membentuk rivalitas yang masih disebut sebagai musuh bebuyutan PERSIB di era Perserikatan.
Trilogi juara generasi emas (1986, 1990, dan 1994)
1986: di bawah pelatih Nandar Iskandar, PERSIB menjuarai Wilayah Barat (tujuh menang, tiga seri; 17 poin) dan lolos ke final setelah peringkat kedua di enam besar. Di final, PERSIB mengalahkan Perseman Manokwari 1–0 lewat gol tunggal Djadjang Nurdjaman di Stadion Utama Senayan. Pemain binaan Marek Janota mendominasi skuat, antara lain Sobur, Boyke Adam, Robby Darwis, Adjat Sudrajat, Sukowiyono, dan Adeng Hudaya. Setelah kompetisi, PERSIB juga memenangi Piala Sultan Hassanal Bolkiah dengan meminjam beberapa pemain dari klub Galatama.
1989/90: PERSIB, di bawah pelatih Ade Dana dengan asisten Dede Rusli dan Indra Thohir, juara dengan mengalahkan Persebaya 2–0 di Stadion Utama Senayan. (Satu bagian di Wikipedia bahasa Indonesia menyebut lawan finalnya PSM Makassar, tetapi RSSSF, Tempo, dan BandungBergerak sama-sama menulis Persebaya.)
1993/94: PERSIB menjuarai Wilayah Barat (14 laga, delapan menang, lima seri, satu kalah; 21 poin), lalu memuncaki Grup K babak delapan besar. Di semifinal 15 April 1994, PERSIB bermain 1–1 dengan Persija (gol Yusuf Bachtiar menit ke-55) dan menang adu penalti 5–4. Pada final 17 April 1994 di Senayan, PERSIB mengalahkan PSM Makassar 2–0 lewat gol Yudi Guntara (menit ke-26) dan Sutiono Lamso (menit ke-71). Tim diasuh trio Indra Thohir, Djadjang Nurdjaman, dan Emen Suwarman, dengan Aris Rinaldi di gawang, Robby dan Roy Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Kekey Zakaria, Yudi Guntara, dan Sutiono Lamso. Sebagai juara terakhir era ini, PERSIB berhak menyimpan Piala Presiden secara permanen sebelum Perserikatan dilebur dengan Galatama.
Di antara gelar-gelar itu, jalan PERSIB tidak selalu mulus. Pada 1986/87 PERSIB berhenti di babak enam besar, peringkat ketiga dengan poin sama dengan PSIS tetapi kalah produktivitas gol, dan PSIS kemudian juara. Gelar 1987/88 jatuh ke Persebaya (final 3–2 atas Persija). Pada 1991/92 PERSIB kalah 1–2 dari PSM di semifinal dan 1–2 dari Persebaya di perebutan tempat ketiga, sementara PSM juara. Djadjang Nurdjaman tercatat sebagai satu-satunya orang yang meraih gelar nasional bersama PERSIB sebagai pemain dan pelatih.
Kandang, suporter, dan penutup era
Stadion Siliwangi menjadi saksi kegemilangan itu. Pada 11 Juni 1987 PSV Eindhoven, yang kemudian menjuarai Piala Champions 1987/88, menjajal PERSIB di stadion itu di depan sekitar 25.000 Bobotoh dan menang 6–0. Liputan6 mencatat Ruud Gullit pernah merasakan rumput Siliwangi dalam laga itu. Istilah “Bobotoh” berasal dari bahasa Sunda dan sudah tercatat di koran Sipatahoenan pada 1938. Stadion yang dikelola Kodam III/Siliwangi itu bukan milik PERSIB.
PSSI mengakhiri dualisme kompetisi amatir (Perserikatan) dan semiprofesional (Galatama) dengan Liga Indonesia mulai musim 1994–95, yang diikuti 34 tim (16 eks Galatama dan 18 eks Perserikatan) dan membuka keran pemain asing. PERSIB melanjutkan kejayaan dengan menjuarai edisi perdana itu setelah mengalahkan Petrokimia Putra 1–0 lewat gol Sutiono Lamso di Senayan pada 30 Juli 1995.
Daftar Sumber
- Wikipedia (Inggris) - "Persib Bandung" (kronologi era, gelar)
- tempo.co - Jejak Juara PERSIB Bandung di Berbagai Era
- bandungbergerak.id - Perjalanan Juara PERSIB dari Zaman Perserikatan hingga Liga Indonesia
- RSSSF - Indonesia - Amateur Era Champions (Perserikatan 1951-1994)
- cnnindonesia.com - Sejarah PSSI Terbentuk 90 Tahun Silam
- Wikipedia bahasa Indonesia - "Persib Bandung" (sejarah, kronologi era Perserikatan)
- RSSSF - Indonesia - Dutch East Indies Champions / Stedenwedstrijden
- Wikipedia bahasa Indonesia - "Bobotoh" (sejarah suporter)
- detik.com (detikJabar) - HistoriSib: Perjalanan PERSIB Juara 1937, Tanpa Kalah Sekalipun
- detik.com (detikJabar) - Menapaki Sejarah PERSIB Bandung dan Kedigdayaan di Era Perserikatan
- detik.com (detikJabar) - Uang Prajurit di Balik Berdirinya Stadion Siliwangi
- RSSSF - Indonesia 1979 (Perserikatan 1978/79)
- kompas.com - Jelang PSMS vs Persib, Kenangan Rekor 150.000 Penonton di Senayan
- RSSSF - Indonesia 1985 (Divisi Utama Perserikatan 1985)
- RSSSF - Indonesia 1986 (Divisi Utama Perserikatan 1986)
- Wikipedia bahasa Indonesia - "Divisi Utama PSSI 1993-1994" (klasemen, semifinal, final)
- liputan6.com - Mengenang Kejayaan Stadion Siliwangi dan Maknanya bagi Penggemar PERSIB